DAYS OF WAR, NIGHTS OF LOVE

Posted by Addy on Dec 31, '09 6:57 AM for everyone
Kota Batu adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini terletak 15 km sebelah barat Kota Malang, berada di jalur Malang-Kediri dan Malang-Jombang. Kota Batu berbatasan langsung dengan Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan di sebelah utara serta dengan Kabupaten Malang di sebelah timur, selatan, dan barat. Wilayah kota ini berada di ketinggian 680-1.200 meter dari permukaan laut dengan suhu udara rata-rata 15-19 derajat Celsius.

Sejak abad ke-10 Wilayah Batu dan sekitarnya telah dikenal sebagai tempat peristirahatan bagi kalangan keluarga kerajaan. Pada waktu pemerintahan Raja Sendok , seorang petinggi Kerajaan bernama Mpu Supo diperintah Raja Sendok untuk membangun tempat peristirahatan keluarga kerajaan di pegunungan yang didekatnya terdapat mata air. Dengan upaya yang keras, akhirnya Mpu Supo menemukan suatu kawasan dan mulai melakukan pembangunan tempat peristirahatan serta dibangunnya sebuah candi yang diberi nama Candi Supo.

Kawasan itu dikenal sebagai kawasan Wisata Songgoriti. Mata air dingin tersebut sering digunakan mencuci keris-keris yang bertuah sebagai benda pusaka dari kerajaan Sendok. Oleh karena sumber mata air yang sering digunakan untuk mencuci benda-benda kerajaan yang bertuah dan mempunyai kekuatan supranatural yang maha dasyat, akhirnya sumber mata air yang semula terasa dingin dan sejuk akhirnya berubah menjadi air panas. Dan sumber air panas itupun sampai saat ini menjadi sumber air panas abadi di kawasan Wisata Songgoriti.

Berdasarkan kisah-kisah orang tua maupun dokumen yang ada maupun yang dilacak keberadaannya, sampai saat ini belum diketahui kepastiannya tentang kapan nama "B A T U" mulai disebut untuk menamai kawasan peristirahatan tersebut. Dari beberapa pemuka masyarakat setempat memang pernah mengisahkan bahwa sebutan ‘batu’ berasal dari nama seorang ulama pengikut Pangeran Diponegoro yang bernama Abu Ghonaim atau disebut sebagai Kyai Gubug Angin yang selanjutnya masyarakat setempat akrab menyebutnya dengan panggilan Mbah Wastu.

Abu Ghonaim sebagai pengikut Pangeran Diponegoro yang setia, dengan sengaja meninggalkan daerah asalnya Jawa Tengah dan hijrah dikaki Gunung Panderman untuk menghindari pengejaran dan penangkapan dari serdadu Belanda (Kompeni) Abu Ghonaim atau Mbah Wastu yang memulai kehidupan barunya bersama dengan masyarakat yang ada sebelumnya serta ikut berbagi rasa, pengetahuan dan ajaran yang diperolehnya semasa menjadi pengikut Pangeran Diponegoro. Akhirnya banyak penduduk dan sekitarnya dan masyarakat yang lain berdatangan dan menetap untuk berguru, menuntut ilmu serta belajar agama kepada Mbah Wastu.

Dari kebiasaan kultur Jawa yang sering memperpendek dan mempersingkat mengenai sebutan nama seseorang yang dirasa terlalu panjang serta lebih cepat bila memanggil seseorang akhirnya lambat laun sebutan Mbah Wastu dipanggil Mbah Tu menjadi ‘Mbatu’ atau ‘batu’.

Batu dan sekitarnya juga memiliki Panorama Alam yang indah dan berudara sejuk, tentunya hal ini menarik minat masyarakat lain untuk mengunjungi dan menikmati Batu sebagai kawasan pegunungan yang mempunyai daya tarik tersendiri. Untuk itulah di awal abad 19 Batu berkembang menjadi daerah tujuan wisata, khususnya orang-orang Belanda, sehingga orang-orang Belanda membangun tempat-tempat Peristirahatan (Villa) bahkan bermukim di Batu.

Situs dan bangunan-bangunan peninggalan Belanda atau semasa Pemerintahan Hindia Belanda itupun masih berbekas bahkan menjadi aset dan kunjungan wisata hingga saat ini. Begitu kagumnya bangsa Belanda atas keindahan dan keelokan Batu, sehingga bangsa Belanda mensejajarkan wilayah Batu dengan sebuah negara di Eropa yaitu Switzerland dan memberikan predikat sebagai De Klein Switzerland atau Swiss kecil di Pulau Jawa.

Salah satu tempat yang jadi ikon kota Batu adalah air terjun Coban Rondo. Letaknya 10 km kearah barat kota Batu. Sebuah legenda mengisahkan bahwa asal-usul Coban Rondo berasal dari kisah asmara sepasang pengantin yang baru saja melangsungkan pernikahan. Mempelai perempuan bernama Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi yang menikah dengan Raden Baron Kusumo dari Gunung Anjasmoro. Memasuki usia pernikahan mencapai Selapan (36 hari), Dewi Anjarwati mengajak sang suami berkunjung ke rumah mertuanya di Gunung Anjasmoro.

Namun orang tua Dewi Anjarwati melarang kedua mempelai pergi karena usia pernikahan masih dalam masa selapan. Menurut tradisi adat-istiadat di Jawa, pasangan yang baru menikah dilarang pergi jauh bila usia pernikahannya baru selapan. Bila pantangan itu dilanggar maka akan banyak godaan dan ancaman dalam perjalanan. Namanya pengantin baru, kedua mempelai bersikeras pergi dengan segala resiko apapun yang terjadi di perjalanan sekalian menikmati bulan madu. Maka berangkatlah mereka lengkap bersama rombongan pengawal dan dayang-dayang.

Ditengah perjalanan, mereka berjumpa dengan Joko Lelono. Pangeran muda tampan dan terkenal sakti mandraguna. Akhirnya mereka berkenalan dan menjadi teman dalam perjalanan. Selama perjalanan diam-diam Joko Lelono mempunyai perhatian yang berlebih dan mulai terpikat dengan kecantikan Dewi Anjarwati. Joko Lelono sudah tahu jika Dewi Anjarwati telah bersuami. Namun hasratnya untuk mempersunting Dewi Anjarwati justru makin menggebu.

“….saya tau Dewi telah bersuami…tapi salahkah bila saya memuja dan menyukai Dewi?...salahkah jika saya harus jujur dengan segala perasaan saya terhadap Dewi?” dalam satu kesempatan Joko Lelono mengungkapkan perasaannya pada Dewi Anjarwati. Dia sama sekali tidak mempedulikan Raden Baron Kusumo suaminya Dewi Anjarwati.

“ Maaf, Mas Joko yang tampan, terimakasih mas mau jujur dengan perasaan mas. Bukan maksud hamba untuk membuat mas terluka… tapi mas musti ngerti dengan kondisi saya saat ini. Jika mas mau hubungan yang lebih dari pertemanan dengan berat hati saya menolak permintaan mas.” Jawab Dewi Anjarwati menolak halus permintaan Joko Lelono.

“… ya saya mengerti dengan posisi Dewi saat ini, tapi hasrat dan hati saya tidak bisa menahan keinginan untuk mempersunting Dewi. Saya rela mati untuk mendapatkan Dewi.” Sahut Joko Lelono tertahan.

Suasana sempat hening sejenak, pasangan pengantin baru dan para pengikutnya mecoba menahan diri dengan suasana yang sudah tidak nyaman ini.

“…maaf, saya sudah bersuami dan berikrar untuk setia. Dia adalah yang terbaik dan saya rela menghabiskan sisa umur saya bersamanya.” Dengan tegas Dewi Anjarwati menolak tawaran Joko Lelono.

Dewi Anjarwati memberi penawaran pada Joko Lelono untuk meminang salah satu dayangnya. Akan tetapi dasar orang sudah dimabuk cinta, dunia seakan gelap, dunia seakan buta, pria tersebut tetap pada pendiriannya dan ini semakin lantang dan setiap ungkapannya kini sarat dengan ancaman.

“dewi saya hanya menginginkanmu. Apapun halangannya pasti akan saya singkirkan. Saya tidak takut pada apapun, yang saya takutkan jika harus kehilanganmu” nadanya setengah berteriak lantang berucap didepan suami Dewi Anjarwati.

“Joko Lelono…jika kamu rela mati untuk mendapatkan istriku maka aku juga rela mati untuk mempertahankan kehormatan sebagai suaminya.” Sahut suami Dewi Anjarwati yang mulai tak tahan dengan sikap Joko Lelono. Dia merasa tertantang walaupun dia tahu kesaktian Joko Lelono belum ada tandingannya.

“jadi kamu menantangku Baron? Sadarkah dengan ucapanmu itu? yakin bahwa aku adalah lawan yang pantas untukmu?” Joko Lelono semakin berang dan gelap mata.

“jika ucapanku diartikan seperti itu dengan bangga akan saya layani. Saya rela mati demi membela kehormatan pernikahan kami. Tentukan saja dimana dan kapan saya harus membunuhmu”. Raden Baron tak kalah berang.

“besok siang temui saya diatas bukit disebelah barat. Kita tentukan siapa yang lebih pantas menjadi pendamping Dewi Anjarwati.” Joko Lelono akhirnya menentukan waktu pertarungan.

Malam harinya keduanya tidak dapat beristirahat dengan tenang. Mereka ingat kembali pada larangan orangtua Dewi Anjarwati untuk bepergian. Kini mereka merasakan langsung godaan dan marabahaya itu. berdua mereka saling berpeluk dalam resah dan ketakutan yang amat sangat.

Keesokan harinya sebelum mereka berpisah, Raden Baron Kusumo berpesan kepada istrinya.

“ istriku, ingatkah kamu ditengah perjalanan kita pernah beristirahat disuatu tempat. Waktu itu kita duduk disebuah air terjun dan melihat pelangi di temani suara gemericik air jatuh ke bebatuan?”

“ iya kakanda tercinta… saya mengerti maksud kakanda..” Dewi Anjarwati menjawab dengan suara tertahan dan mata berkaca-kaca.

“ pergilah bersama para dayang. Tunggu saya di tempat itu.., mungkin pertempuran ini butuh waktu yang lama… doakan saya kembali dengan selamat… jika saya tidak kembali dalam beberapa hari ke depan…..” Ucapan Raden Baron tidak sempat dituntaskan. Jemari Dewi Anjarwati menutup kata-kata suaminya dengan pelukan erat. Keduanya hanyut bersama linangan air mata. Akhirnya kecupan di kening Dewi Anjarwati menjadi salam perpisahan sebelum Raden Baron pergi kebukit ditemani bala tentaranya. Dewi Anjarwati dan para dayangnya pergi menuju lokasi persembunyian yang telah disepakati.

Pertarungan antara Joko Lelono dan Raden Baron Kusumo akhirnya terjadi. Raden Baron yang didukung oleh bala tentara terbaik lumayan merepotkan Joko Lelono. Dalam pertempuran yang berlangsung berhari-hari itu beberapa kali Joko Lelono terkena serangan yang dilancarkan Raden Baron dan bala tentaranya. Joko Lelono terluka parah namun semangat bertempurnya tidak juga surut. Karena kesaktiannya satu persatu bala tentara Raden Baron berhasil ditaklukan. Hingga akhirnya Raden Baron sendiri berhasil dibunuh oleh Joko Lelono.

Pertempuran itu berhasil dimenangkan oleh Joko Lelono namun dengan kondisi terluka parah. Dia berjalan tetatih meninggalkan arena pertarungan untuk menemui Dewi Anjarwati. Dia begitu kecewa dan sangat terpukul ketika mengetahui bahwa Dewi Anjarwati telah pergi entah kemana. Dalam keadaan terluka parah dia berjalan mencari jejak Dewi Anjarwati hingga ditengah perjalanan akhirnya tewas dengan kondisi yang mengenaskan.

Ditempat lain Dewi Anjarwati menunggu kedatangan suaminya di air terjun bersama para dayangnya. Setiap hari dia duduk bersemedi untuk berdoa memohon kepada para dewa untuk keselamatan suaminya. Setiap titik air yang jatuh adalah hempasan rindu dan harapan. Dia masih belum tahu bahwa suaminya telah tewas dibunuh Joko Lelono. Dengan setia Dewi Anjarwati duduk menanti kedatangan suaminya.

Hingga akhirnya jasad dan ruh Dewi Anjarwati menghilang dan larut menyatu bersama alam (ngahiyang). Sementara para dayang yang telah bersumpah setia untuk mengabdi pada Dewi Anjarwati berubah wujud menjadi kawanan monyet. Sejak saat itu air terjun tempat Dewi Anjarwati bersembunyi dikenal dengan nama Coban Rondo. ‘Coban’ adalah bahasa jawa yang artinya air terjun dan ‘rondo’ mempunyai arti janda. Konon batu besar dibawah air terjun merupakan tempat duduk sang puteri ketika melakukan semedi dan doa kepada para dewa.

alone.jpg
  
apel malang.jpg
  
bakso batu.jpg
  
bangunan tua.jpg
  
bentang alam.jpg
  
brownies terong.jpg
  
coban rondo1.jpg
  
coban rondo2.jpg
  
coban rondo3.jpg
  
singgasana dewi anjarwati.jpg
  
dayang Dewi Anjarwati.jpg
  
dayang Dewi Anjarwati1.jpg
  
hutan1.jpg
  
hutan2.jpg
  
hutan3.jpg
  
hutan4.jpg
  
hutan pinus1.jpg
  
hutan pinus2.jpg
  
kabut.jpg
  
kota batu2.jpg
  
pasar kembang.jpg
  
piramid sterofoam.jpg
  
red sky.jpg
  
kota batu1.jpg
  


diansocool wrote on Jan 18
bagus ceritanya hehe..jadi merinding kalo inget pernah berhari-hari kemping di sana dan ternyata ada urban legend ini..bener2 pernah kejadian ga ya??
gustar wrote on Jan 18
alus euy.urang mah ngan apal minuman khas dinya. Es Batu he he
Add a Comment