DAYS OF WAR, NIGHTS OF LOVE

Posted by Addy on Feb 1, '10 3:15 AM for everyone
Pasca acara penanaman pohon dan acara botram di gunung Manglayang saya mulai berpikir untuk mengulang kembali acara tersebut dan menjadikan program rutin tahunan. Pada waktu itu yang menjadi kendala bagi saya adalah keterbatasan bibit pohon. Sebetulnya ada banyak bibit pohon yang dapat diakses memanfaatkan jaringan LSM atau aktivis yang fokus di wilayah lingkungan hidup. Namun karena keterbatasan biaya maka akhirnya saya hanya mampu mengakses bibit pohon yang gratis saja itupun hanya tersedia di daerah Ciwidey.  Intinya sama saja harus mengeluarkan biaya untuk sewa mobil dan biaya bahan bakar.

Suatu hari saya iseng-iseng memperhatikan halaman dalam di Common Room yang juga dimanfaatkan untuk daerah resapan air. Tanahnya ditutup menggunakan paving block yang bolong-bolong agar air hujan dapat terserap maksimal. Ternyata di daerah yang bolong-bolong itu tumbuh tanaman kecil bersama rumput. Kebetulah disebelah Common Room ada tetangga yang memiliki pohon salam. Apabila musim kemarau pohon itu ranum berbuah dan buahnya banyak yang jatuh kehalaman belakang Common Room. Buah salam yang hanya sebesar biji pepaya ternyata mampu tumbuh dan survive di sela-sela paving block. Akhirnya muncul ide untuk menyemai buah salam untuk dijadikan bibit.

Bermodalkan pupuk organik dan campuran abu sekam sisa yang ada dirumah dan beberapa kantung polybag akhirnya saya dibantu Ismet mulai berburu bibit pohon salam dan memasukannya ke dalam polybag. Sebelumnya pupuk tersebut dicampur dengan tanah yang berasal dari selokan depan Common Room. Menurut Ismet tanah tersebut cukup subur dan pernah diuji untuk menanam biji pohon salam dan berhasil. Proyek pertama dimulai dengan 18 bibit pohon salam yang baru berusia satu bulan. Pohon mungil yang tingginya hanya 2 cm dan baru tumbuh 2-3 daun kecil. Satu persatu bibit tersebut dipindahkan ke dalam polybag. Setelah satu minggu ternyata semuanya berhasil bertahan hidup.
 
Beberapa hari kemudian iseng saya perhatikan juga pohon mahoni besar yang tumbuh di depan Common Room. Pohon yang punya nilai ekonomis tinggi sekaligus juga kokoh dan berumur panjang. Ternyata dibawah pohon tersebut banyak juga mahoni-mahoni  junior yang berebut tumbuh dengan rumput dan semak. Akhirnya satu persatu bibit mahoni itu saya pindahkan juga kedalam polybag. Dibantu oleh Ipin sebagai pemburu bibit, Ismet dan Hendra. Dari hasil perburuan itu ternyata kami juga mendapatkan aneka bibit lainnya. Ada bibit pohon jeruk, jambu batu, rambutan, lengkeng dan pohon mangga. Semuanya berasal dari depan Common Room dan sepanjang jalan Kyai Gede Utama.

Semua bibit itu dimasukan kedalam polybag yang telah di isi dengan campuran tanah selokan, pupuk organic dan abu sekam. Kini total bibit yang terkumpul ada 75 buah dan berencana akan dipelihara hingga musim tanam berikutnya tiba. Kami menunggu hingga bibit berusia 6 bulan atau telah tumbuh setinggi 50-70 cm baru akan kami tanam dilahan terbuka. Kebanyakan adalah bibit mahoni dan salam. Kini kami hanya bisa berharap semoga bibit yang kami pelihara dapat tumbuh dengan sehat hingga mereka semua bisa menyusul teman-temannya yang telah terlebih dahulu menempati lahan kritis di gunung Manglayang.
 
Saya berpikir untuk menyelamatkan bumi itu adalah pekerjaan yang maha sulit. Tapi ternyata alam masih bermurah hati pada kita walaupun dia sudah disakiti dan dihancurkan oleh perilaku kita. Dia masih mau memberikan pada kita generasi-generasi baru yang diharapkan mampu memperpanjang usia bumi. Dengan caranya yang sederhana dan penuh kesabaran dia mengajarkan kita tentang makna semangat dan harapan. Ternyata semuanya ada disekitar kita. Tinggal kita rakit semua amunisinya dan ikut membantu akselerasi untuk meregenerasi alam menjadi tempat yang lebih baik lagi untuk dihuni.

Sampai jumpa diprogram Botram dan Melak Tangkal 2010...
 

m4s0k3 wrote on Feb 1
Saya berpikir untuk menyelamatkan bumi itu adalah pekerjaan yang maha sulit. Tapi ternyata alam masih bermurah hati pada kita walaupun dia sudah disakiti dan dihancurkan oleh perilaku kita. Dia masih mau memberikan pada kita generasi-generasi baru yang diharapkan mampu memperpanjang usia bumi. Dengan caranya yang sederhana dan penuh kesabaran dia mengajarkan kita tentang makna semangat dan harapan. Ternyata semuanya ada disekitar kita. Tinggal kita rakit semua amunisinya dan ikut membantu akselerasi untuk meregenerasi alam menjadi tempat yang lebih baik lagi untuk dihuni.
sangat menginspirasi, kang.. jadi pengen mulai nanam pohon di depan kosan. jatinangor kan kering tuh dan udah penuh polusi. sekali lagi, terima kasih :D
Add a Comment