Sebulan yang lalu saya melakukan perjalanan sepeda cross country ke gunung Manglayang. Mendaki puncak Manglayang dari arah punggungan Ujungberung lalu turun tembus kearah Jatinangor di daerah bumi perkemahan Kiara Payung. Jalur pendakian menuju puncak Manglayang terbilang berat hingga selama satu jam lebih sepeda benar-benar tidak bisa dikendarai alias harus didorong hingga ke puncak Manglayang. Totally by “sikil”. Dibeberapa tempat bahkan saya menemukan jalur tebing yang harus dipanjat hingga sepeda harus ditarik keatas menggunakan tali webbing. Fyuuh…!!
Namun ketika sudah sampai dipuncak dan mulai menuruni puncak Manglayang, semua perasaan lelah akhirnya terbayar lunas. Track menurun tajam dengan gradien kontur yang curam dan berbatu. Jalurnya terjal dan sempit diapit oleh jurang membutuhkan konsentrasi tinggi dan stamina berlebih, utamanya lagi keberanian!... Very technical! Sepeda saya geber hingga kecepatan 40-60 km perjam menuruni jalur serupa buatan setan namun pemandangannya kaya disurga (hi hi hi kaya yang udah pernah kesurga aja!). Berbelok tajam kadang melompat terbang diantara rapatnya hutan pinus. Benar-benar menyenangkan. Memasuki kawasan Kiara Payung sepeda akhirnya harus dikerek lagi menggunakan tali webbing menuruni tebing. Lalu turun memasuki area kampus Unpad Jatinangor. Sepanjang perjalanan menuruni kampus Unpad iseng saya celingukan memperhatikan keadaan sekitar. Kayaknya asik juga “ngacak-ngacak” kampus ini, pikir saya saat itu.
Akhirnya niat saya kesampaian juga. Sebulan kemudian saya saya balik lagi ke Jatinangor. Kampusnya luas banget dan relatif sepi dari lalu lalang kendaraan. Kontur lahannya yang berada disisi gunung Manglayang membuat kampus ini mempunyai banyak variasi trek yang menantang. Hampir semua gedung fakultasnya mempunyai tangga dengan turunan yang curam. Jalur pertama masuk dari arah kampus Unwim ke arah Kiara Payung. Menyusuri lapangan golf dan lahan tidur yang tandus. Dari situ saya nemu jalur downhill lumayan extreme menyusuri perkebunan jagung sepanjang 1 km. Saya kasih nama jalur “cornhill”. Jalurnya lumayan lebar namun dibeberapa bagian jalurnya rusak berat oleh ulah ban motocross. Tembusnya dibelakang kampus peternakan. Dari situ lanjut ngebut menyusuri jalur trotoar melewati kampus Fikom, Sastra, Fisip dan finish didepan gor Pakuan. Fasilitas trotoar paving blocknya yang panjang dan dilengkapi kanopi serta trap sedalam 50 cm setiap interval 100m. Sepeda bisa digeber hingga kecepatan maksimal. Kalo misalnya ada orang yang lagi jalan ditrotoar sepeda bisa loncat ke area jalan aspal dan loncat lagi kejalur trotoar. Hati-hati sama jalur trotoar yang ditumbuhi lumut, mau ban semahal apapun dijamin takluk sama lumut yang licin. Sepeda dijamin melintir!. Kondisi fisik harus benar-benar oke buat bisa menjajal trek trotoar ini. Sambil turun ngebut dan loncat-loncat!...
Setelah istirahat lanjut lagi naek ke arah tanjakan curam disebelah kampus Fisip. Naik keatas kearah gedung “kembar”. Dari situ meluncur turun menyusuri trotoar melewati belakang kampus mipa dan psikologi lalu finish didepan kampus kedokteran. Kalau yang ini jalur trotoarnya tidak terlalu menantang karena turunannya tidak terlalu curam namun dibeberapa lahan parkir kampusnya banyak terdapat drop off dengan kedalaman 1-2 meter. Cuman pastikan kalo mau loncat dibawahnya tidak ada kendaraan yang lagi parkir. Jangan lupa juga perhatikan aktivitas satpam kampus. Karena kalo ketauan sama pak satpam bisa di “anjing goblog”. Jalur ini lumayanlah buat nyari keringet…setelah itu istirahat lagi depan kampus kedokteran. Jalur downhill dan semua jalur trotoar di kampus Unpad Jatinangor relatif masih bisa dihajar oleh sepeda dengan jenis frame hard tail/rigid cuman travel fork depan harus pake yang tinggi. Minimal ukuran 130 mm.
Perjalanan dilanjutkan kearah utara. Di belakang kampus Fikom ada lahan kosong yang mirip arena mountain cross. Oke juga buat dipake dirt jump dan stunt jump. Karakter treknya didominasi jenis tanah merah serta undakan-undakan tanah yang bisa difungsikan sebagai superbowl dadakan. Start nya bisa dimulai dari atas Fakultas Peternakan atau pinggir gedung “kembar” lalu ngebut turun melewati track tanah dan jajaran drop off sedalam 2 meter berjajar sebanyak 6 buah!...di jalur ini sepeda dan riders nya benar-benar disiksa habis-habisan. Sepeda saya benar-benar bisa terbang dengan berbagai gaya!... Untuk jalur ini spek sepeda yang dipake harus benar-benar serius. Disarankan menggunakan frame sepeda yang full suspension. Penggunaan helm dan pelindung lutut sangat diwajibkan di jalur ini. Apalagi jika jalur ini diguyur hujan. Bagi yang suka aksi jack ass, masih didaerah tersebut bahkan ada drop off setinggi 4 meter!...layak dijajal dengan tambahan hantaman musik metal ditelinga.
Kebetulan sepeda saya menggunakan frame hard tail, sehingga ketika mendarat selepas “terbang” benturannya sangat terasa menghentak. Hasilnya adalah beberapa jari-jari sepeda saya patah. Jalur ini bener-bener grindcore!...akhirnya saya menyerah juga. Terkapar dengan beberapa luka lecet dan dislokasi otot disekitar lutut dan punggung. Ughhh….
Tapi hari itu saya bener-bener puas. Saya menemukan tempat bermain baru yang sangat menyenangkan. Mumpung lahannya masih belum beralih fungsi menjadi bentuk-bentuk baru yang sangat asing dan dan tidak ramah. Saya juga berniat untuk bikin video dokumentasi spot-spot yang asik buat freerides atau dirt jump. Mumpung masih ada!...Dan Kampus Unpad Jatinangor adalah salah satu yang terbaik. Benar-benar surganya para extreme free riders!...hayu atuh…by demons be driven!...